Akhir November 2025, hujan deras yang tak biasa mengguyur pulau Sumatra, dipicu oleh badai tropis dan kondisi monsun ekstrem, memicu bencana yang menghancurkan: banjir bandang, longsor, dan arus deras yang menghantam permukiman, perkebunan, dan hutan.

Dalam hitungan hari, ratusan nyawa hilang, ribuan terluka, dan jutaan orang mengungsi. Namun di balik angka kemanusiaan, ada krisis lingkungan dan ekologi yang jauh lebih besar: krisis terhadap biodiversitas pulau yang dikenal sebagai salah satu hotspot keanekaragaman hayati dunia.


1. Akar Kerusakan Berlapis

Bencana ini bukan semata akibat cuaca buruk. Para ahli dan organisasi lingkungan menegaskan bahwa konversi hutan, perambahan kawasan hulu, izin tambang dan perkebunan, serta rusaknya tutupan vegetasi telah menghancurkan infrastruktur alami Sumatra.

Infrastruktur alami inilah yang biasanya menyerap air hujan, menahan erosi, dan menjaga stabilitas tanah. Ketika hujan ekstrem tiba, ekosistem yang rapuh itu runtuh. Kayu gelondongan yang terbawa arus seringkali bukan berasal dari tumbang alami, melainkan sisa pembalakan di wilayah tangkapan air yang kini tengah disorot.

2. Bencana terhadap Habitat & Kehidupan Liar

Banjir dan longsor menghancurkan zona vegetasi, sungai, dan lereng yang merupakan habitat alami flora dan fauna. Tanah longsor mencabut akar pohon, mengubur tumbuhan bawah, dan merusak stratifikasi tanah yang sangat penting untuk mikrobioma dan satwa kecil.

"Bagi banyak spesies yang hidup di zona pegunungan atau hutan primer, bencana ini bisa berarti hilangnya rumah, sumber makanan, dan jalur migrasi."

Bila kerusakan bersifat luas dan permanen, beberapa spesies langka bisa kehilangan habitat kritisnya.

3. Kerugian Ekologis & Ekonomi

Kehancuran hutan dan lahan gagal tumbuh kembali dalam semalam. Bahkan jika dilakukan reboisasi, butuh dekade agar struktur ekosistem pulih sepenuhnya—agar tanah subur terbentuk kembali dan mikrobioma tumbuh.

Sementara komunitas manusia kehilangan mata pencaharian, kerugian ekologis sulit dihitung dengan angka. Kehilangan spesies, degradasi tanah, dan melemahnya sistem air tanah adalah penurunan kualitas lingkungan jangka panjang.

Dampak pada Komunitas Lokal

Masyarakat yang bergantung pada hasil hutan (buah, tanaman obat) kehilangan sumber daya vital. Penyebaran spesies invasif juga meningkat ketika tanah alami terganggu, mengancam ekosistem asli.

4. Pelajaran Penting dan Jalan ke Depan

Bencana Sumatra 2025 adalah alarm besar: bahwa konservasi lingkungan bukan hobi elit, melainkan kebutuhan fundamental bagi keselamatan manusia dan keberlangsungan alam.

  • Hentikan Izin Baru: Segera hentikan pembukaan izin baru di area tangkapan air dan hulu sungai.
  • Restorasi Kawasan Kritis: Lakukan audit dan moratorium, serta pulihkan tutupan hutan alami.
  • Bangun Secara Ekologis: Reboisasi dengan spesies lokal dan libatkan komunitas dalam restorasi sungai.
  • Edukasi: Tanamkan pemahaman bahwa alam adalah infrastruktur utama mitigasi bencana.

Panggilan Aksi

Bagi kita yang peduli dengan alam—terutama komunitas urban-farming, agrifood, dan konservasi—ini adalah panggilan. Kita harus belajar bahwa setiap batang pohon yang ditebang adalah taruhan terhadap masa depan.

Banjir dan longsor di Sumatra 2025 bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga tragedi ekologis. Untuk generasi sekarang dan mendatang, mari membangun kembali dengan hormat pada alam, memilih keberlanjutan daripada eksploitasi.